Hai, Indonesia. Aku putramu dari berjuta-juta putra-putrimu di bumimu yang subur ini. Aku bangga bisa menjadi bagian darimu. Akan tetapi, bagaimana dengan putramu yang lain.Aku menulis surat ini untukmu agar engkau tetap dicintai seluruh putra-putrimu dari sabang sampai merauke.Tak sedikit putramu sendiri yang menghina dirimu, itu sama saja mejilat ludahnya sendiri. Aku tak tega melihatmu seperti ini, kata dunia engkau bangsa yang besar.Tetapi, menurutku engkau belum pantas disebut bangsa yang besar karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bangsanya sendiri.
Bangsa ini seperti jiwa yang kosong, rasa kecintaan terhadapmu tererosi sudah, mengikis perlahan-lahan di setiap pribadi-pribadi putramu.Banyak contoh konkret dari hal tersebut, nasionalisme putramu hanya terlihat secara badaniyah saja.Wahai Ibu Pertiwi, aku tak sanggup melihatmu meninggalkan dunia ini, jikalau putramu yang seharusnya membelamu tak ada lagi di sampingmu untuk melindungimu.
Ibu Pertiwi, lihatlah RMS, OPM, GAM itu salah satu bukti konkret putramu yang mulai membangkang, durhaka dan berkeinginan tak mau mengakui engkau lagi sebagai ibunya, mereka tak mau lagi menjunjung konsep NKRI sebagai suatu “kebenaran” sejarah social politik yang tak terbantahkan.Layaknya suatu “scientifict fact” dalam paradigma sains, NKRI adalah suatu kebenaan ilmiah yang harus dijunjung oleh siapapun yang berada dalam wilayah ilmiah tersebut.Pada mereka, nasionalisme bak cairan injeksi yang harus direproduksi segera untuk diinjeksikan ke otak mereka yang sudah rusak, merefreskan kembali segala pikiran-pikiran sesat mereka dan menjadikannya manusia”waras”.Ini harus segera direalisasikan.Bukan tak mungkin, putramu yang lain pun akan mengikuti saudara-saudaranya bila keadaan engkau terus seperti ini tanpa adanya semangat perubahan, krisis nasionalisme dan kredibiltas yang sangat tinggi akan membuatmu bersusah hati lalu sakit dan akhirnya meninggalkan dunia ini.
Ibu kau sangat kaya, hartamu malimpah.Tahukah engkau, jika itu semua di ekploitasi, kekayaanmu akan melebihi negara maju sekalipun.Seperti A.S, Jepang, dan negara-negara Eropa.Ibu, sadarilah banyak yang menginginkan engkau, semuanya sudah terbaca di berbagai kejadian yang engkau alami.Sebut saja, pemberian suaka terhadap pelarian OPM dan pelaku moneyloundry.Mereka ingin kau terpecah-belah dan tidak berkembang sebab jika engkau maju akan menjadi suatu kekuatan dunia yang baru.Hemat anakmu, mereka tersaingi jika engkau maju maka dengan alasan globalisasi, putra-putrimu (generasi mudamu) disuntik mati secara perlahan-lahan dengan berbagai aneka ramuan yang mematikan sehingga sulit berkembang.
Ibu, jangan biarkan mereka menghalangi kita untuk maju, sudah saatnya kita bicara tunjukan pada dunia bahwa cita- cita besarmu dapat terwujud dari sebuah karya-karya briliant anak bangsa, bangsa yang besar.Semangat yang kuat sebagai bangsa yang besar menimbulkan efek psikopolitik untuk membangun kembali citra kita, ini konsekuensimu sebagai bangsa yang besar.Alasan globalisme telah membuatmu terperosok.Globalisme telah membuat dinamika-dinamika yang mencakup dalam berbagai aspek kehidupan yang mobilitasnya sunguh ekstracepat, sehingga untuk menjamin integritas masyarakatmu yang pluralistic diperlukan tameng untuk menepis terjangan globalisasi ini, tahukah engkau apa tameng itu,ibu? Tameng itu yang tak lain adalah spirit nasionalisme yang harus tertanam di setiap pribadi-pribadi putra-putrimu agar dapat bertahan dari deburan ganas ombak globalisasi ini.Nasionalisme tak hanya kesetiaan, komitmen, dan rasa memiliki Negara yang bersifat instrumental yakni keterikatan oleh prinsip politik melainkan juga bersifat sensorik yang berisikan emosi-emosi dan perasaan.Sebenarnya, jika diamati secara seksama.Pada hakikatnya secara rasional,diskursus globalisasi ini bukanlah indikator mengikisya ideology nasionalisme bahkan secara paradoks menunjukan gejala-gejala meningkatnya yang signifikan ketika negara-negara di dunia ini berkompetesi demi kepentingan ekonomi, social, budaya, IPTEK.Kemudian, sekarang bagaimana memahami spirit nasionalisme di negerimu dalam kondisi social-politik yang sedang goyah ini, ibu?
Menurut Anthony smith (1986), paham nasionalisme telah eksis semenjak manusia memahami konsep kekerabatan biologis. Perspektif ini, mendudukan bahwa nasionalisme sebagai konsep alamiah yang secara rasional sifatnya fleksibel, fluktuatif (dinamis).Apa sebenarnya makna nasionalisme ?
Begitu banyak perspektif dan interpretasi tentang makna nasionalisme dalam dimensi ideologi.Salah satunya dari Ernest Renan yang dijuluki sebagai bapak nasionalisme berpendapat bahwa nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu (le desir d’etreensemble) sebagai bangsa.Ibu, apakah masih ada nasionalisme di bumimu nan indah ini?
Kesadaran sebagai suatu bangsa yang besar harus ada di pribadi putra-putrimu agar bersatu-padu. Nasionalisme secara fundamental timbul karena adanya persatuan karakter dari perasaan senasib dan formalisasi serta rasionalisasi kesadaran nasional dalam berbangsa dan bernegara.Seharusnya, engkau bisa lebih bersatu dari sekarang yang timbul banyak separatisme karena engkau memiliki nasionalisme yang lain dari Negara lain yakni nasionlisme yang berladaskan ideology bangsa ini sebagai jati diri bangsa yang di mana mengharuskan kehidupan yang tolerir, penuh musyawarah dalam mengambil keputusan.Jika semua itu diimplementasikan dalam kehidupan bukan hal tak mungkin bangsa ini menjadi bangsa yang besar.
Ibu, kita tilik sekarang spirit nasionalisme yang menjadi senjata dalam perang globalisasi malah sepertinya kurang di aktualisasikan. Sehingga engkau, zamrud di khatulistiwa ini terpaksa harus menelan krisis reputasi yang berkelanjutan yang berujung pada menurunnya respektifitas putra-putrimu sendiri dan selanjutnya menciptakan erositas loyalitas, nasionalisme, patriotime terhadapmu, ibu pertiwi.Pantas benar, sebuah lagu wajib “Ibu Pertiwi” di ciptakan di era perjuangan yang sepenggal berbunyi: Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati.Air matanya berlinang mas intanya terkenang…………Kini ibu sedang lara,Merintih dan berdo’a .Mungkin, para founding father sudah meramalkan nasibmu sekarang, ibu!
Begitu banyak problem solving mu.Akan tetapi, banyak putramu tak mau mendampingimu.Hal ini, sungguh bertolak belakang dengan putramu di era pra-merdeka yang memiliki perspektif histories yang begitu kental akan nuansa loyalitas, nasionalisme, patriotisme dan penuh heroik untuk memperjuangkan kemerdekan karena pada saat itu putra-putrimu masih bersifat egoisme, sukuisme, primordialisme, kolektivisme, propinsialisme dan ethnocentrisme sampai akhrinya dalam wadah “Sumpah Pemuda“ 28 oktober dengan triloginya yang familiar yakni berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu,Indonesia.Yang melahirkan reaksifitas yang responsive dari putra-putrimu sehigga berhasil mengikis jangkar-jangkar kotor kolonialisme yang menancap kuat di bumimu ini selama tiga abad tiga tahun yang berangkat dari spirit nasionalisme kaum-kaum “pribumi” yang berintelektual yang bangkit karena perasaan tertindas pada saat itu.
Sudah di buktikan betapa kuatnya performa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nasionalisme kita bak konstruksi kokoh yang di bangun para fonding father dengan perjuangan penuh heroik dalam menggapai 17 Agustus 1945, sebagai suatu konstruksi maka harus di proteksi dipelihara, dan di jamin mampu menghadapi dinamika-dinamika global agar tetap eksis.
Sebagai generasi yang siap untuk regenerasi yang lebih baik demi tercapainya retorasi bangsa yang jauh lebih baik, kita harus protective untuk memelihara dan menjaga konstruksi tersebut agar tetap berdiri kokoh dari terjangan intervensi-intervensi radikal bangsa lain, yang tak lain karena desakan-desakan globalisasi yang semakin menunutut, sebagai bangsa yang multicultural (heterogen) diperlukan komposisi proporsional akan nasionalisme kita, belum lagi fakta menyebutkan engkau terdiri dari berbagai ras, suku, agama, dan golongan social-ekonomi yang berbeda da berada di lebih dari 17.500 pulau yang terpisah oleh lautan yang di klaim sebagai paling luas di dunia.Oleh karena itu, kita harus konsekuen dalam berpartisipasi menjunjung tinggi loyalitas dan respeksifitas terhadap bangsa ini, bangsamu ibu! dengan sprit nasionalisme yang diaktualisasikan dalam wujud konkret untuk mengklarifikasikan problem solving (permasalahan) bangsa ini yang semakin kompleks, yang mungkin dikarenakan erositas nasionalisme putra-putrimu.
Dalam kontek pemuda, nuansa manis spirit nasionalisme seperti sedang mengalami erositas yang berkelanjutan, jika ini dibiarkan dan secara perlahan tapi pasti akan menjadi boomerang untukmu, ibu! Bagaimana tidak, kaum muda adalah asset masa depan bangsa, ini tidak boleh diremehkan dan akan menjadi tugas besar para penggerakmu (pemerintah).Ada dua pilihan, mau mamikirkannya atau membiarkan engkau tinggal dalam kenangan historis dunia karena generasi mudamu yang akan meneruskan langkah pendahulunya untuk melaksanakan roda pemerintahan akan habis karena sudah tidak adanya lagi rasa memiliki dirimu, Ibu Pertiwi!
Mungkin mengikisnya sense of nasionalism di karenakan factor ketidakpahaman apa yang menjadi hakikat nasionalisme sebenarya sehingga kurang di realisasikan apa yang menjadi seharusnya.KSAD Jendral TNI Djoko Santoso dalam seminar HKSN 2006 mengatakan, untuk melakukan konsolidasi nasionalisme diperlukan revitalisasi nasionalisme dengan cara memberikan pemahaman yang dalam terhadap rasa, paham, dan semangat kebangsaan antara lain melalui kepemimpinan dan keteladanan, moral dan etika, pendidikan serta penegakan hukum yang konsisten. Inilah yang menjadi tugas elemen-elemen bangsa ini termasuk pemerintah sebagai fasilitator untuk mewujudkan kaum muda yang bernasionalisme tinggi.Faktor lain adalah erositas nasionalisme yang mungkin karena westernisasi (pengaruh budaya asing) yang semakin kuat mengoyak jiwa dan mental kaum muda engkau Ibu Pertiwi yang kami cintai, sehingga secara perlahan dan tak sadar dapat mempengaruhi originalitas etos culture budayanya sendiri bahkan mungkin dapat meniggalkannya.Dipungkiri atau tidak, revitalisasi ini sangat penting untuk kembali mengimplementasikan nasionalism value dan peran active kaum muda sangat diperlukan dalam revitalisasi nasionalisme untuk menuju kebangkitan masa depan bangsa ini. Bedanya kebangkitan era ini dan era pra-merdeka adalah pada era pra-merdeka bangkit untuk freedom sedangkan era ini bangkit dari keterpurukan.Disadari atau tidak, keterpurukan ini ada kaitannya dengan redupnya sense of nasionalism anak bangsamu ini khususnya kaum muda. Sebagaimana kita ketahui bahwa nasionalisme dapat membangkitkan patriotisme seperti halnya dalam pasal 30 UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara .” Jika semua itu sudah bersemayam di sanubari kaum muda, maka akan membangkikan spirit membela, mempertahankan, serta berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dengan segenap jiwa raga dan pada giliranya masa depan bangsa akan mempunyai prospek yang lebih cerah.Akan tetapi, sayangnya persepsi tersebut kurang direalisasikan oleh kaum muda dan ternyata setelah diamati secara seksama. Kaum muda secara universal belum mampu megelola dan menumbuhkembangkan nikmat kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SWT bagi bangsa ini yang sudah dipersembahkan oleh para founding father atau manusia atau kaum muda yang hebat dan berjiwa nasionalisme tinggi yang merebut dari tangan-tangan kotor imperalisme, apakah kita mau di jajah secara fisik lagi untuk dapat membangkitkan nasionalisme kita? Sepertinya pemuda era ini sedang terjangkit virus-virus kemanjaan luar biasa yang menjadikan mentalitas kaum muda kurang fight dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh dinamika ini dan cenderung menyerah sebelum berperang sehingga bangsa ini harus menelan krisis multidimensi yang tak berujung.Secara rasional, harusnya kaum muda era ini lebih berprospek tinggi untuk menjadi manusia hebat dalam pemikiran, skill, seiring berkembangnya sains dan tekhnologi, dibandingkan pemuda era dulu yang penuh tekanan, penderitaan, kemiskinan,dan hannya bermodal semangat mereka sudah mampu menghasilkan manusia-manusia hebat pada zamannya.Sebut saja, Ir.sukarno, Moh. Hatta, Wahidin Sudirohusodo, Jendral Sudirman dan masih banyak lagi.Menilik problematika tersebut betapa perlunya peran aktif kaum muda antara lain dengan menjaga semangat kepedulian akan nasib bangsa, mengutamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi atau golongan, melakukan gerakan revitalisasi moral untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik dari segala sector.
Dalam kontek politik, perubahan politik yang secara dramatis di Indonesia telah mendudukan bangsa ini dalam posisi yang dilematis dan kompleks.Dalam hal ini, nasionalisme lebih difungsikan untuk sepenuhnya kemakmuran bangsa.Pernah presiden SBY mengatakan, KKN dapat diatasi secara signifikan pada 15 tahun mendatang.Pernyataan beliau kita interpretasikan saja sebagai harapan masih adanya harapan bangsa untuk menjadi lebih baik, tetapi bagaimanapun juga secara naluriah ingin kita saksikan secara konkrit, kita tidak mau terus-menerus dalam imajinasi bahwa suatu waktu kita akan makmur dan nasionalisme adalah selimut ideolginya dalam menggapai mimpi itu.Nasionalisme akan menyusut apabila distorsi-distorsi dalam Negara meningkat, kita hanya bisa memproteksinya apabila kita secara prioratif dan konsisten berupaya keras untuk meminimalisasi factor-faktor distorsi tersebut seperti liberalisasi dalam berbagai aspek kehidupan, lunturnya ideology sebagai basis pembangunan, meningkatnya komunikasi lintas batas Negara, yang memicu timbulnya fenomena-fenomena kehidupan seperti kemiskinan, kebodohan, kesenjangan social-ekonomi, ketidakpastian supremasi hukum tetapi semua itu kembali pada diri kita masing-masing mau mengadakan mobilitas atau tidak demi nasib bangsa yang jauh lebih baik?
Dalam kontek social, kristalisasi nasionalisme di sanubari kita semua itu sangat perlu untuk revitalisasi nasionalisme kita, bukan sekedar simbolik saja seperti barpartisipasi dalam 17 agustus-an yang hanya budaya ritualisasi perayaan anniversary RI atau hanya hormat sekejap pada sang merah-putih sebagai procedural seremonial sekolah yang sacral demi menunjukan komitmen kita pada sekolah, itu semua hanya rutinitas belaka atau juga para supporter sepak bola yang berbuat anarkis dan arogansi yang hanya menimbulkan deviansi-deviansi anyar lagi.Bukan nasionalisme seperti itu yan diharapkan bangsa ini.
Nasionalisme bukan sekedar badaniyah saja tetapi harus menancap di qalbu kita yang terdalam untuk fight melawan musuh utama kita, yang bukan lagi kolonialis yang kejam dan radikal melainkan kemiskinan dan kebodohan. Kita miskin sehingga ita bodoh, bangsa ini bodoh menyebabkan kemiskinan yang permanent, ini bagian dari dari krisis multidimensi yang complicated yang sadang dihadapi engkau, ibu! yang sedang menangisi keterpurukanya.Sementara elit bangsa ini dengan transparan menghianati rakyat dan mengenyam berbagai kemewahan, jika ini dibiarkan akan menciptakan krisis kredibilitas yang akan menimbulkan dilema anyar yang lebih kompleks lagi.
Dala konteks ekonomi, pernah surat kabar memberitakan bahwa ada kurang lebih 180.000 pelajar yang sedang menuntut ilmu di Australia, jika dikalkulasikan berapa rupiah yang dialokasikan untuk devisa negeri orang, sementara kita selalu menyatakan fasilitas pendidikan di negeri kita kurang dan tidak kompetitif tetapi kenapa negeri orang yang justru kita sumbang ? ini baru di Australia, bagaimana yang ada di belahan bumi lainnya. Penulis mendiagnosa memang bangsa ini terindikasi jauh dari orientasi-oerientasi nasionalisme. Kita caba kalkulasikan, mungkin budgetnya lebih dari cukup untuk kepentingan edukasi negerimu ini, ibu! yang masih mempunyai sekolah reot, bangku rusak, dan atap bocor termasuk juga kualitas pendidik yang handal karena kesejahteraanya terpenuhi, jika mereka melanjutkan untuk S2, it’s o.k tetapi yang disayangkan hanya untuk SMU atau S1 itu sama saja melecehkan bangsanya sendiri dengan dalih knowledge know no frontiers ( pengetahuan itu tidak kenal batas ), dimana rasa cinta anak-anakmu, ibu ????? Penulis menyinggung sedikit tentang pendidikan, pendidikan yang sebagai instrument pembangunan sekarang ini seperti jiwa hampa yang menghasilkan generasi yang selalu gamang, tidak siap menyongsong masa depan di era yang sangat kompetitif ini, mandul dalam berkarya.Sungguh sebuah kenaifan bila semua itu terus terjadi dan tidak berupaya mengevaluasi system pendidikan ini? Perlu diingat generasi sekarang adalah tombak keberlangsungan hidup bangsa ini yang kini belum dapat dinikmati dengan layak, banyak pula generasi-generasi penerusmu ini yang sudah gerah dengan system ini, sehingga lebih percaya dengan institusi lain yang kiranya sanggup memenuhi kebutuhan mereka.Hal ini, menunjukan telah terjadinya krisis kredibilitas terhadap institusi pendidikan formal.Sekolah yang seharusnya melahirkan manusia yang mampu memerankan dirinya sebagai anak bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan sebagai obat penyembuh penyakit masyarakat tetapi tidak berkutik, ini perlu perhatian dari pemerintah.Salah satu implikasi dari frustasinya pendidikan adalah siswa diharuskan menguasai bab kemudian mengikuti tes lalu mendapat nilai. Orientasi terhadap nilai kognitif inilah yang akan merusak mental siswa yang kelak akan terjun ke masyarakat menjadi manusia individulistik dan matrenialistik, dua mental tesebutlah yang akan menjadi factor perusak kehidupan masyarakat bahkan bangsa, dan factor inilah pula yang menjadi embrio korupsi.Sekolah dijalani agar mendapat ijazah untuk bekerja, prosesnya sendiri tidak pernah dinikmati, hal ini disebabkan obsesi di kalangan masyarakat bahwa kekayaan adalah obat yang harus di peroleh dengan segala cara dan biaya apapun.Oleh karena itu, tujuan pendidkan jika dilihat dari realitas telah menyimpang dari tujuan utama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi mengkayakan materi individu bangsa. Dengan demikian, semua cara dapat dihalalkan dan pendidikan bahkan agama bisa diperlakukan sebagai sarana dan alat mengkayakan diri dan pada giliranya Negara ini akan carut marut.Sungguh, pendidikan ini hanya mnelurkan “tenaga kerja” bukan lagi lembaga yang menghasilkan manusia seutuhnya (the whole person).Kalau tidak segera di reformasi kelak akan mengganggu stabilitas nasional.Dalam hal ini, guru memilki peranan sentral untuk menciptakan learning performance mengingat guru adalah fasilitator dan dinamisator pendidikan.Untuk itu, guru harus memahami apa yang dipikirkan siswa, mengakrabkan diri, memperhatikan perkembangan siswa, menghormati perbedaan di kalangan siswa.Pengaruh guru sangat ditentukan oleh kredibilitas guru itu sendiri.Kalau di mata murid merupakan sosok yang krdibel, mampu dijadikan model bagi para siswa maka pengaruh guru cukup besar untuk menggiring anak didik menjadi anak didik pembaharuan.Sebaliknya, kalau guru tidak dipecaya, tidak mampu dijadikan model, pengaruh guru dalam sosialisasi pembaharuan ini akan kecil.Guru perlu mengembangkan aktivitas cultural untuk mewariskan nilai-nilai pendidikan dan nasionalisme dan menginterpretasikannya dengan wawasan baru.Dalam hal ini, diperlukan guru yang berani dalam dedikasi mengembangkan potensi anak didiknya.Pada diri peserta didik perlu dikembangkan kreativitas untuk mengembngkan nilai-nilai yang diterima guna menghadapi tantangan baru di zamannya.Untuk itu, guru diharapkan memanfaatkan kurikulum seefektive mungkin, berani mengangkat isu masyarakat yang controversial untuk memancing kreatifitas siswa di kelas dalam diskusi, mampu berperan sebagai model bagi siswa, menekankan pada anak didik berpikir secara “global”, mengembangkan materi dari realitas sekitar tidak hanya dari apa yang ada di buku, menerapkan sikap disiplin, demokrasi, daya kritis, mendorong semangat untuk mengejar pengetahuan, meninggalkan etos kerja guru yang semula mendasar pada responsibility menjadi accountability yakni sejauh mana anak didik sedah mencapai basic competencies dan senantiasa menjunjung harkat dan martabat manusia.Tetapi semua itu, kembali kepada pemerintah sebagai pilar utama yang menentukan arah dan kebijakan pendidikan, semoga dunia pendidikan Indonesia dapat maju demi tercapainya cita-cita bangsa ini.
Itu baru di koridor edukasi, di koridor industrialisasipun tak jauh beda. Kita selalu bangga dengan produk import yang mejadi brand image dan merupakan lifestyle anak-anakmu saat ini yang telah terwarisi mental penikmat bukan pembuat. Kemanjaan dan kebodohan sudah terlalu lama menjadi benalu anak-anakmu yang membuatnya berevolusi seperti kaum hedonis yang penuh konsumerisme.Selama ini, kita hanya membeli brand bukan fungsinya demi gengsi kita semata, sebenarnya produk dalam negeripun tak terlalu buruk untuk dikonsumsi oleh kita semua, hanya saja asumsi masyarakat kurang welcome.Sama halnya dengan sektor produksi sector industri otomotifpun setali dua uang. Masyarakat sangat antusias dengan otomotif Jepang, Jerman, Amerika daripada mobil Timor atau motor Kanzen sebagai produk dalam negeri, memang tak munafik produk luar negeri lebih unggul tetapi apa salahnya kita mencoba, dengan semakin banyaknya pendapatan maka seiring dengan itu kita dapat mengembangkannya layaknya Negara Cina, Malaysia, Korea. Mereka lebih memilih produknya sendiri sehingga produknya kompeten di pasaran. Jka itu disadari, hanya dengan spirit cinta produk dalam negeri maka indusri dalam negeri akan dirasakan kotribusinya demi kemakmuran kita semua menilik kita bangsa ke-4 terpadat penduduknya sebagai sebuah pangsa pasar yang besar.Seperti slogan Pertamina: “kita untung, bangsa untung” dan mengingat juga semakin meningkatnya angka pengangguran yang diprediksi akan mencapai angka 12,5 juta jiwa (2007) dan akan menambah tingkat kemiskinan menjadi 45,7 juta jiwa (2007), lesunya tingkat investasi karena rendahnya kredibilitas investor terhadap industri dalam negeri, meningkatnya angka kriminalitas yang tak lain di sebabkan factor pengangguran, utang luar negeri yang kini totalnya mencapai (per 31 desember 2006) Rp 1.318,2 triliun sedangkan assetnya Rp 1.253,7 triliun.Secara akuntansi bangsa ini bangkrut karena utangnya lebih besar 64,5 T dari assetnya.Sebenarnya pemerintah berniat menghentikan utang luar negri tersebut, tetapi hal itu tidak dilakukan.Yang terjadi, justru World Bank, ADB, IMF, USAID dan Negara donor bilateral lainnya giat menawarkan utangnya ke pemerintah agar tetap bisa mengintervensi berbagai policy dan kegiatan di Indonesia untuk mengontrol dan mempengaruhi kebijakan politis maupun ekonomi serta demi meraup profit financial, ini merupakan cengkraman konspirasi “global” yang harus diawasi dengan ketat.Hal ini, membuktikan masih kuatnya dominasi asing di bangsa ini yang tidak kita sadari sebagai sebuah praktek babak penjajahan baru dan menjauhkan bangsa ini dari kemandirian serta mengusik kedaulatan Negara seakan kita sebuah bangsa yang bodoh.Sungguh kita benar-benar mengalami kebangkrutan lahir batin, dan masih banyak lagi problem di berbagai aspek kehidupan bangsamu ini, ibu! Ingin sampai kapan kita terus seperti ini, ibu????
Kita tidak mau terus dalam utopia, bukan? Bahwa negri kita akan maju tetapi kita buktikan pada dunia secara konkrit.Memang dulu Indonesia adalah sebuah macan Asia, besar kekuatannya, besar ekonominya, pertahanannya, politiknya, bahkan kekuatan olahraganya.Tapi itu dulu, Indonesia kini memang Negara besar. Besar wilayahnya saja, bak rumah besar yang keropos tiang-tiangnya karena pemiliknya sudah tidak memperhatikan lagi betapa pentingnya arti sebuah rumah untuk kelangsungan hidup.Ibu, kenapa kita menjadi negera yang gampang dipermainkan. Dipermainkan poltiknya, ekonomi, pertahanan keamanannya bahkan olahraganya.Tetapi kita optimis kita bisa menjadikan kembali Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar.Akan tetapi, semua itu bukan perkara mudah tetapi butuh usaha yang ekstra keras, All wealth is the product of labour and laziness is the key to begarry, serta do’a yang tak kalah pentingnya dan tentunya juga dengan spirit nasionalisme sebagai pengawal usaha kita. Sudah saatya kita realisasikan spirit cinta bangsa ini dalam semua aspek kehidupan untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia yang hebat demi terwujudnya cita-cita luhur bangsamu ini,ibu!
Nasionalisme sekarang ini bak sebuah faksin yang harus segera diijeksikan untuk mengusir virus-virus depresi krisis multidimensi bangsa ini untuk menciptakan iklim yang kondusif serta untuk membentengi jalannya reformasi menuju masyarakat demokrasi.Tidak perlu mengkontaminasi nasionalisme kita dengan intrik-intrik yang terjadi belakangan ini. Kita junjung semangat ke-bhinekatunggalika-an kita, segala problematika ini mengisyaratkan kita untuk bersatu bukan saling tonjok.Perbedaan adalah sebuah anugrah bukan konflik yang harus di besar-besarkan, ingatlah bangsa ini ada bukan karena jasa individual tetapi jasa persatuan untuk menjadi bangsa yang besar.We cann’t spread our country while we are dreaming but we must build it and where there’s a will, there’s a way but also we must remember man purpose, God disposes. Wallahua’lam bissowab.DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
Senin, 15 Maret 2010
SURAT DARIKU UNTUKMU
Label: aku terlalu cinta indonesia, artikelPANCASILA SEBAGAI TEKS KENEGARAAN
Pancasila adalah teks kenegaraan bagi bangsa Indonesia, sebab rumusan sila-sila yang terdapat di dalamnya secara konstitusional dipandang sebagai dasar falsafah atau landasan ideologi negara Republik Indonesia. Karena merupakan teks penting kenegaraan, ia sekaligus merupakan wacana ? bahan bacaan dan perbincangan bangsa Indonesia dalam membahas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kehidupan, negara, bangsa, tanah air dan sejarah yang dijalani bangsa Indonesia baik sejak awal kemerdekaan hingga kini.
Tetapi sebagai teks, rumusan-rumusan dalam dasar falsafah negara kita ini, selalu terbuka kepada berbagai penafsiran. Itulah yang terjadi dalam sejarahnya. Pada era Demokrasi Terpimpin (1959-1965) yang disebut ?pancasilais? tidak sama dengan penyebutan yang dimaksudkan selama pemerintahan Orde Baru (1967-1998). Para pendiri republik ini yang dipandang paling bertanggung jawab terhadap Pancasila memberikan penafsiran yang relatif berbeda berkenaan dengan sila-sila yang terdapat di dalamnya.
Bung Karno lebih banyak berbicara dalam konteks politik kenegaraan, Mohammad Hatta berusaha menerjemahkannya menjadi sistem ekonomi yang menempatkan kedaulatan rakyat sebagai pilar utamanya. Kedua pemimpin itu setuju bahwa Pancasila sebagai ideology kenegaraan dan dasar sistem ekonomi lebih mendekati ?sosialisme? dibanding ?kapitalisme?. Tetapi sepanjang pemerintahan Orde Baru hingga kini, kapitalismelah yang lebih leluasa mengembangkan sayap dan menguasai kehidupan ekonomi dan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Situasi ini mengundang persoalan dan mesti dipikirkan kembali oleh anak bangsa dalam menyongsong masa depan bangsa yang tidak menentu. Begitu pula dalam upaya menempatkan bangsa kita bermartabat dan tehormat di tengah pergaulan bangsa-bangsa lain di dunia.
Sebagaimana teks ideologi atau kenegaraan lain di dunia ini, Pancasila mengandung tiga aspek utama yang merupakan lapisan-lapisan yang secara bersama-sama membentuk rumusannya dan sekaligus mengundang tafsir yang aneka ragam. Tiga aspek utama itu ialah:
(1) Aspek yuridis formal, yaitu rumusan sila-silanya yang lima dan dijadikan landasan konstitusi dan yuridis dalam kehidupan bernegara;
(2)Aspek sosiologis historis dan sosial-budaya, yang melatari penyusunan dan perumusan sila-silanya. Aspek ini sangat kompleks, memerlukan berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk menjelaskannya, terutama ilmu sejarah, anthropologi, sastra, sosiologi, ilmu kebudayaan, politik dan geografi.
(3). Aspek falsafah, yaitu pandangan hidup, sistem nilai dan gambaran dunia (worldview) yang melatari kesepakatan atas perumusan dan pencetusannya sebagai dasar ideologi negara.
Dilihat menurut aspeknya yang pertama, sila-sila dalam Pancasila seakan-akan mengikat secara yuridis karena ia merupakan landasan terbentuknya sistem hukum dan perundang-undangan dalam negara Republik Indonesia.
Dilihat dari aspek kedua kita diingatkan untuk menyadari bahwa di belakang perumusan sila-silanya terdapat serangkaian peristiwa sosial politik dan situasi/kondisi sosial budaya yang dialami bangsa Indonesia sebelum tahun dicetuskannya proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dengan kata lain di belakang perumusan Pancasila itu adalah sejarah suatu bangsa yang telah lama memiliki anekaragam kebudayaan, sistem kepercayaan dan pandangan hidup.
Sebagai sebuah negara yang harus dibangun di negeri yang penduduknya multi-etnik, multi-agama dan multi-historis itu, cita-cita dan tujuan negara RI harus mampu menampung aspirasi dari penduduknya yang bhinneka itu, mengakui eksistensinya beragam dalam ekspresi budaya, pelaksanaan sistem kepercayaan, pengembangan sistem pengajaran dan pendidikan, dan menyelenggarakan kehidupannya di bidang sosial, ekonomi dan politik.
Dilihat dari aspek ketiga, keseluruhan isi Pancasila dan juga setiap sila yang ada dalamnya didasarkan atas suatu pemikiran falsafah tertentu. Ini bisa kita ketahui bila kita meneliti pemikiran founding father republik ini seperti Sukarno, Muhammad Hatta dan lain-lain yang terlibat langsung dengan perumusannya. Di dalamnya terkandung cita-cita dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang hidup dalam pemikiran pendiri negara ini.
TIGA ASPEK PANCASILA
------------------------------------------------------------------------------
I I I
1. formal: 2. sosiologis hitoris 3. falsafah
I I I
Kelima sila realitas sosial budaya &cita-cita pandangan hidup bangsa Indonesia
sejarah sosial politik dan kondisi ekonomi Weltanschauung pendiri NKRI (cermin masy.Ind)
Sila-sila dalam Dasar Falsafah Negara:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusian Yang Adil dab Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalan Permusyawatan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila kedua dan ketiga tercemin jelas dalam Mukadimah UUD 45
Sila Pertama hanya tersirat, bahkan kerap diperdebatkan
Sila keempat dan kelima belum dipraktekkan sungguh-sungguh dalam
Kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kenegaraan.
Mukadimah UUD 45 terdiri dari 4 perkara pokok:
Pernyataan keyakinan atau statement of belief:
- Kemerdekaan adalah hak segala bangsa (aspek kemanusiaan)
- Perjuangan mencapai kemerdekaan dicapai berkat rahmat Tuhan YME (aspek religius)
Visi sejarah (a vision of history)
Terbentuknya negara RI bukan karena pewarisan dari nenek moyang, tetapi hasil perjuangan seluruh bangsa, segenap golongan, lapisan dan etnik.
Landasan falsafah atau dasar negara --- Pancasila.
Alasan ideologis berdirinya negara RI (mempertahankan bangsa dan tanah air, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut serta dalam mempertahankan perdamaian dunia yang abadi dan berkeadilan.
Realitas Sosial Budaya & Sejarah Politik (Latar rumusan Pancasila dan Mukadimah UUD 45)
Sebelum RI berdiri bangsa Indonesia yang multi-etnik, multi agama, multi-golongan dls, memiliki kebudayaan, agama dan kerajaan-kerajaan yang didirikan sebelum dan setelah datangnya agama Hindu, Buddha dan Islam; Datangnya VOC dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda menyatukan kerajaan-kerajaan Indonesia lama yang ditaklukkan di bawah penjajahannya. Pada akhir abad ke-19 M, setelah Perang Diponegoro di Jawa, Perang Padri/Imam Bonjol di Sumatra Barat, perang di berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatra, Nusa Tenggara dll, dan terakhir Perang Aceh (berakhir secara de fakto pada 1905) Hindia Belanda disatukan di bawah nama Pax Nederlandica. P. N. dipersatukan secara administrative, menggunakan sistem pos dan komunikasi yang seragam, mata uang, penguatan kapitalisme.
Pendidikan diseragamkan melalui apa yang disebut ?politik etis? atau etische politiek. Secara ekonomi, politik dan budaya negeri ini berada di bawah pengawasan dan penguasaan tunggal pemerintah jajahan Hindia Belanda.
Awal abad ke-20 muncul gerakan kebangsaan dari berbagai golongan dan perkumpulan etnik (Budi Utomo, Jong Java, Jong Sumatra, dll). Idea mendirikan negara kesatuan disalurkan melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tahun 1930an muncul Polemik Kebudayaan untuk menentukan arah kebudayaan bangsa Indonesia. Nama Indonesia berasal dari sarjana Jerman abad ke-19 Adolf Bastian. Pada abad ke-20 digunakan oleh organisasi pemuda Indonesia di negeri Belanda Perhimpunan Indonesia (didirikan 1921).
Penjajahan Jepang 1942 1945 --- terbentuknya Badan Urusan Panitia Persiapan Kemerdekaan RI. Melahirkan Piagam Jakarta lalu Mukadimah UUD 45, dengan Pancasila di dalamnya. Ide NKRI yang sekarang adalah lanjutan dari Pax Nederlandica. Baik pemerintahan Demokrasi Terpimpin (1959-1965) dan lebih-lebih-lebih pada zaman Orde Baru (1967-1998) kekuasaan pemerintah pusat terlalu besar membuka peluang persatuan diterjemahkan sebagai penyeragaman, kesatuan sebagai keseragaman.
IDEOLOGI-IDEOLOGI BESAR DALAM RUMUSAN PS
Jika diteliti secara mendalam latar belakang sejarah perumusan sila-sila dalam PS, akan tampak bahwa PS berakar dalam berbagai ideology yang berkembang sejak zaman kerajaan-kerajaan (Hindu, Buddha dan Islam) dan selama masa penjajahan Belanda. Ideologi-ideologi ini dipelajari oleh para pendiri NKRI dari sekolah-sekolah yang didirikan Belanda. Dari lembaga-lembaga pendidikan inilah pemikiran filsafat/falsafah Barat diperkenalkan kepada pemuda-pemuda atau kaum terpelajar Indonesia.
Ide-ide yang dimaksud ialah ?Kemanusiaan yang adil dan beradab?, yang tidak lain dikembangkan dari Humanisme, sedangkan perkataan ?adil? dan ?beradab? mengacu pada ajaran Islam. Sila ketiga ?Persatuan Indonesia? identik dengan nasionalisme, sedang sila keempat ?Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan? mengacu pada ide Demokrasi, sedangkan nuansa keindonesiaan/Islam ditambahkan melalui kata-kata ?permusyawaratan?. Sila terakhir ?Keadilan Sosial Bagi Segenap Rakyat Indonesia? mengacu pada ide-ide Sosialisme, dan ajaran Islam tentang keutamaan ?adil? bagi pemimpin dalam menjalankan pemerintahan.
Pada mulanya ketika panitia Badan Persiapan Panitia Urusan Kemerdekaan Indonesia bersidang, sila pertama ?Ketuhanan Yang Maha Esa? belum disinggung oleh beberapa peserta sidang, tetapi kemudian diusulkan oleh golongan nasionalis Islam agar dimasukkan dan dijadikan sila pertama. Sila ini dalam Piagam Jakarta (yang mendahului penyusunan Mukadimah UUD 45) berbunyi ?Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluknya?. Kemudian diganti ?Ketuhanan Yang Maha Esa? untuk menunjukkan realitas anthropologis bangsa Indonesia yang terdiri dari pemeluk- pemeluk berbagai agama (Islam, Hindu, Buddha, Kristen (Katholik dan Protestan) dan kepercayaan- kepercayaan lokal, termasuk penganut agama Kong Hu Cu).
Peletakan sila Ketuhanan YME ini mengandung konsekwensi pada penerapan sila-sila yang lain, yang sebagian besarnya dicerap dari ide-ide modern yang berkembang di Barat dan tidak terlalu dikaitkan dengan ajaran agama. Di Indonesia ide-ide itu dengan sendirinya harus dikembangkan pula sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang dipeluk sebagian besar penduduk Indonesia. Dengan demikian agama-agama yang telah ada dan wujud sebelum berdirinya NKRI diakui sebagai bagian dari realitas sosial budaya dan sosial politik bangsa Indonesia.
PANCASILA, REFORMASI DAN CITA-CITA MASYARAKAT MADANI
Salah satu cita-cita kultural gerakan Reformasi yang penting dan relevan untuk membangun masa depan masyarakat Indonesia yang majemuk ialah terbentuknya civil society, yang sering diterjemahkan menjadi ?masyarakat kewargaan? atau ?masyarakat madani? (selanjutnya MM). Dalam masyarakat yang demikian kebudayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat kita yang majemuk, diharapkan memainkan peranan dalam memajukan masyarakat, memperbaiki kondisi dan kualitas hidupnya, serta mengangkat martabatnya di tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Hukum dijunjung tinggi dan dipatuhi sebagai balasan terhadap perlindungan dan keadilan yang diberikan negara kepada masyarakat.
Penganut agama dan etnik yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan, tidak ada diskriminasi dalam kehidupan ekonomi, politik, hukum dan pendidikan. Sejarah dan kebudayaan masing-masing juga dihargai sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan nasional. Sebagaimana difirmankan dalam al-Qur`an, ?Kalian dicipta berkaum-kaum untuk saling mengenal satu dengan yang lain?.
Masyarakat yang demikian dapat terbentuk apabila ada upaya dan kemauan politik yang sungguh-sungguh dari negara dan komponen-komponen masyarakat yang mendukung negara.
Di Indonesia wacana masyarakat madani dirasakan penting pada akhir 1980an dan awal 1990an. Dikenalnya wacana ini secara agak luas bersamaan dengan bangkitnya organisasi-organisasi sosial dan LSM-LSM yang aktif membina jaringan-jaringan komunitas pembangunan dengan tujuan memberdayakan masyarakat dalam sektor kehidupan sosial ekonomi dan sosial budaya. Dikenalnya wacana ini pula bersamaan dengan kebangkitan Islam Kultural dengan tujuan yang hampir sama. Kebangkitan Islam Kultural ini antara lain ditandai dengan berdirinya ICMI, Bank Muamalah dan diselenggarakannya Festival Istiqlal I dan II, untuk menyebut beberapa contoh yang dikenal luas oleh masyarakat.
Pemahaman terhadap pentingnya masyarakat madani tidak dapat dilepaskan dari keinginan menjadikan negara dan pembangunan yang dilaksanakan atas nama negara itu tidak asing bagi masyarakat dan masyarakat tidak merasa dipinggirkan oleh pembangunan, bahkan dapat berperan serta dan ikut mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan kehidupan bernegara dan berbangsa.
Jika dikaji secara mendalam terdapat beberapa hal yang melatari munculnya wacana atau diskursus ini. Selain hasrat pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan komunitas (community development), dapat disebutkan di sini antara lain ialah:
Pembebasan masyarakat dari akibat buruk pendekatan pembangunan Orde Baru, yaitu pendekatan top down and tricle down effects dan pendekatan teknokratis. Pendekatan ini dilakukan untuk mensukseskan pembangunan ekonomi dan penyebarluasan budaya materialisme. Penekanan pada pembangunan ekonomi dan penyebarluasan budaya materialisme, sebagaimana terbukti di negeri lain di luar Indonesia, memperlihatkan bahwa masalah etika dan estetika diabaikan.
Menghindar dari paradigma ideologi asas tunggal Demokrasi Pancasila, yang
antara lain bertitik tolak dari pandangan bahwa negara dan bangsa Indonesia tidak sama dengan negara dan bangsa lain, begitu pula demokrasi yang diterapkannya. Paradigma masyarakat madani sebaliknya bertolak dari pengakuan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi pada dasarnya universal, meskipun setiap negara punya sistem dan cara pelaksanaan berbeda. Begitu pula kita harus mengakui bahwa sistem pemerintahan yang baik tidak dijalankan secara monolitik dan otoriter, melainkan secara demokratis, penuh keadilan dan tidak memihak golongan atau lapisan tertentu masyarakat.
Selama 40 tahun di bawah rezim Sukarno dan Suharto kita merasakan betapa dengan sistem pemerintahan semacam itu, negara tampil tidak lagi sebagai lembaga pemerintahan yang adil, ramah dan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dan menyenangkan bagi tumbuhnya kreativitas, kesejahteraan dan kemajuan. Bahkan di bawah kedua rezim pemerintahan yang sentralistik dan otoriter itu negara menjadi asing bagi masyarakat dan masyarakat asing bagi negara. Keduanya melahirkan negara kekeluargaan yang paternalistik dan penuh mitos serta kultus. Ini menyebabkan perbedaan pendapat dianggap tabu, oposisi ditindas, KKN dianjurkan dan didorong tumbuh, sehingga lahirlah oligarki, oligapoli dan monopoli dalam berbagai lapangan kegiatan, khususnya ekonomi dan perdagangan.
Karena itu mau tak mau cita-cita akan masyarakat madani harus dihubungkan
dengan dorongan untuk membebaskan diri dari pemikiran Orde Baru yang totaliter dan hegemonik. Pemikiran rezim Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru yang totaliter dan hegemonik membuat masyarakat kehilangan jaminan serta dukungan hukum dan politik dalam upaya pemerintah membentuk komunitas bangsa yang menghargai kemajemukan, perbedaan pendapat dan pandangan hidup. Negara juga tidak pernah memberi jaminan dan dukungan jelas bagi tumbuhnya tatanan sosial politik yang demokratis. Begitu pula tidak ada upaya sungguh-sungguh membangun struktur kehidupan ekonomi yang adil dan memihak kepentingan rakyat.
(4) Meluruskan kembali makna bahwa ?persatuan? bukan ?penyeragaman? dan ?kesatuan? bukan ?keseragaman? (budaya, ideologi politik). Selama 40 tahun kita juga melihat lemahnya usaha menciptakan suasana kultural dan ideologis yang dapat membawa komunitas bangsa Indonesia menjadi sebuah masyarakat madani, yang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan dan kesatuan ditafsir sebagai penyeragaman dan keseragaman. Penyeragaman dilakukan dengan membangun kekuasaan birokrasi, sehingga memperlemah kepemimpinan lokal dan nasional di luar jalur birokrasi. Campur tangan birokrasi dalam kehidupan sosial politik, ekonomi dan budaya terlalu dalam, melumpuhkan kreativitas dan wibawa kepemimpinan non-formal. Berbagai lembaga dan organisasi sosial, termasuk partai politik, tidak lebih merupakan perpanjangan tangan penguasa.
Didukung oleh hasrat hegemonik dan dominasi maka segala bentuk ekspresi dan
hasrat untuk berbeda dan menyimpang dari pendapat dan pandangan resmi pemerintah, pasti akan ditindas dan dicap subversif. Malah pemerintah siap dengan tuduhan seperti makar, mendongkel pemerintah yang sah, separatisme dan pengacau keamanan. Aspirasi daerah dihancurkan secara sistematik, di samping dikeruk dan digarong kekayaannya. Sebaliknya masyarakat yang menjadi korban penindasan negara berpendapat bahwa semboyan Persatuan dan Kesatuan, Stabilitas dan Keamanan tidak lebih sebagaiLambang penindasan negara yang sentralistik. Pembangunan lantas menjadi mitos atau dongeng, semacam kisah Ki Dalang untuk menyenangkan publik, dan pemimpin sebagai Ki Dalang yang mengatur skenario cerita berdiri sebagai sosok yang siap dikultuskan.
Karena itu kita juga harus membebaskan diri dari negara birokrasi yang feodalistis untuk membangun masyarakat yang berkedaulatan rakyat. Negara yang tergantung pada birokrasi akan kehilangan daya hidupnya. Bahkan negara semacam itu tidak lebih sebagai sumber konflik, disintegrasi dan kekerasan, karena ia telah menabur benih konflik, kebencian dan pembangkangan. Tetapi ada sumber konflik dan disintegrasi lain yang timbul dari pemerintahan yang sentralistik dan hegemonik. Sumber konflik dan disintegrasi itu datang dari pembangunan ekonomi dan budaya materialisme.
Selama ini pembangunan ekonomi dan industri telah membuat terciptanya daerah-daerah perkotaan dan urban baru. Sebagaimana di kota-kota yang tumbuh besar, di tempat-tempat seperti itu tumbuh komunitas lokal yang majemuk. Komunitas-komunitas lokal yang kian majemuk seperti Batam, Sambas, Ambon, Kupang dan lain-lain itu tumbuh karena adanya arus perpindahan penduduk atau mobilitas demografis. Ada perpindahan yang berlangsung melalui program transmigrasi, ada yang terjadi secara spontan.
Kemajemukan masyarakat lokal seperti itu bukan saja bersifat horisontal (perbedaan etnik, agama dan sebagainya), tetapi juga sering berkecenderungan vertikal, yaitu terpolarisasinya status dan kelas sosial berdasar kekayaan dan jabatan atau pekerjaan yang diraihnya. Dalam hal yang pertama, perkembangan ekonomi pasar membuat beberapa kelompok masyarakat tertentu, khususnya dari etnik tertentu yang memiliki tradisi dagang, naik peringkatnya menjadi kelompok masyarakat yang menimbulkan kecemburuan sosial masyarakat setempat yang mandeg perkembangannya. Dalam hal kedua, kelompok masyarakat etnis dan agama tertentu, yang semula berada di luar mainstream, yaitu berada di pinggiran, mulai menembus masuk ke tengah mainstream. Hal ini dapat menimbulkan gesekan primordialistik, apalagi bila ditunggangi kepentingan politik dan ekonomi tertentu seperti terjadi di Ambon.
Selama birokrasi pemerintah pusat kuat, yaitu ketika Orde Baru berkuasa, kemungkinan terjadinya konflik etnik dan antar agama seperti di Sambas, Kupang, Ambon, Maluku dan lain-lain dapat dicegah. Tetapi kita tidak dapat mengingkari bahwa salah stau faktor penyebabnya ialah kecemburuan dan kesenjangan sosial. Perlakuan berlebihan dari birokrasi terhadap kelompok tertentu, juga bisa memicu konflik, apalagi disarati oleh kepentingan politik dari elit politik yang saling berebut pengaruh dan kekuasaan.
Contoh terbaik ialah di Sambas: suku Dayak yang mandeg dalam mobilitas ekonomi harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Mereka terjepit antara penguasaan HPH dan gerak maju para pendatang suku Madura. Ketika kekuasaan pusat masih kuat, konflik dapat dikendalikan. Namun ketika pemerintahan pusat tumbang, diikuti hancurnya birokrasi di daerah yang merupakan perpanjangan kekuasaan di pusat, maka konflik etnik pun meledak. Konflik diikuti oleh dendam berkepanjangan. Kapankah Muslim Ambon bisa hidup rukun lagi dengan Kristen Ambon? Kapankah masyarakat berbeda etnik di Sambas kembali harmonis?
(6) Kita juga menggugat pandangan bahwa negara di atas segala-galanya, padahal negara didirikan untuk membangun tatanan kehidupan sosial dan politik berkedaulatan rakyat. Selama ini kekuasaan negara (baca penguasa) sedemikian mutlaknya, dan tidak ada yang lebih penting selain penguasa. Padahal Mukadimah UUD 45 secara ideologis meletakkan asas berdirinya negara Indonesia sebagai berikut: (a) Negara didirikan untuk mempertahankan bangsa dan tanah air; (b) meningkatkan kesejahteraan rakyat; (c) mencerdaskan kehidupan bangsa; (d) ikut serta dalam mempertahankan perdamaian dunia yang abadi dan berkeadilan. Dijumpai pula dalam mukadimah UUD 45 pernyataan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan perjuangan bangsa Indonesia berhasil membentuk negara merdeka berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
Dari situ jelas bahwa negara Indonesia bukan warisan nenek moyang, atau satu dua pemimpin, dan juga bukan sekadar kelanjutan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Aceh Darussalam atau Mataram. Tetapi sebagai hasil perjuangan bangsa secara keseluruhan pada abad ke-20.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara konstitusional negara Indonesia dibangun untuk mewujudkan dan mengembangkan bangsa yang religius, humanis, bersatu dalam kebhinnekaan. Demokratis dan berkeadilan sosial. Konsekwensinya ialah keharusan melanjutkanproses membentuk kehidupan sosial budaya yang maju dan kreatif; memiliki sikap budaya kosmopolitan dan pluralistik; tatanan sosial politik yang demokratis dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang adil dan bersifat kerakyatan. Namun dalam empat hal inilah yang tidak pernah dipenuhi oleh pemerintahan Orde Baru.
Dengan demikian kita melihat bahwa semboyan ?Satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa? dan ?bhinneka tunggal ika? masih jauh dari kenyataan sejarah. Ia masih merupakan mitos yang perlu didekatkan dengan realitas sejarah.[]
PETA POLITIK INDONESIA; Konstelasi yang Samar
Hampir di setiap pemilihan umum demokratis di Indonesia memunculkan kejutan dan perubahan dalam peta politik kewilayahan. Apakah kejutan yang sama akan terjadi dalam Pemilu 2009?
Pada pemilu pertama di tahun 1955, banyak perkiraan yang dilakukan oleh pelaku dan pengamat politik ternyata keliru. Herbert Feith (Pemilihan Umum 1955 di Indonesia, 1957) mengungkapkan, tokoh-tokoh dari berbagai aliran politik sama-sama dikejutkan oleh hasil pemilihan umum itu. Kejutan terbesar adalah sukses Nahdlatul Ulama (NU) menaikkan jumlah wakilnya di parlemen dari delapan menjadi 45 dan perolehan Masyumi yang tidak disangka begitu kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebaliknya, kekuatan PNI dan PKI di kedua wilayah itu juga menimbulkan hal yang tidak diduga. Terutama PNI karena dengan memenangkan kedua wilayah itu partai nasionalis ini bisa duduk di peringkat pertama dan mengungguli perolehan suara Masyumi yang dominan dalam penguasaan wilayah.
Dalam Pemilu 1955, Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara Selatan, dan Maluku. Namun, di Jawa Tengah, Masyumi hanya mampu meraup sepertiga dari suara yang diperoleh PNI, dan di Jawa Timur setengahnya. Kondisi ini menyebabkan hegemoni penguasaan Masyumi secara nasional tak terjadi.
Empat puluh empat tahun kemudian, ketika pemilu demokratis kembali digelar, banyak yang memperkirakan Golkar akan tamat seiring dengan runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Ternyata pendapat ini keliru. Golkar, bahkan masih dapat menduduki posisi kedua dalam perolehan suara nasional. Wilayah yang dimenangkannya pun masih cukup signifikan untuk kembali membangun kepercayaan. Dari 313 wilayah kabupaten/kota dalam Pemilu 1999, Golkar masih menguasai 114 daerah (36,4 persen).
Sebaliknya, partai-partai baru yang tumbuh seiring dengan gerakan reformasi ternyata tidak dominan, baik dalam perolehan suara maupun wilayah yang dimenangkannya. Di antara 45 partai baru dari total 48 partai, hanya tiga partai yang mampu meraih kemenangan berdasarkan basis wilayah, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB). Dalam pemilu ini pula, kemunculan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menjadi fenomenal karena mampu melampaui perolehan suara dengan selisih cukup jauh dengan pesaing terdekatnya (Partai Golkar) dan tiga kali lipat dari perolehan suara partai terbesar ketiga. Wilayah yang dikuasainya pun dominan, 53 persen atau 166 kabupaten/kota.
Akan tetapi, determinasi kewilayahan PDI-P ternyata tidak bertahan lebih dari lima tahun karenanya Pemilu 2004 menimbulkan kejutan berikutnya. Suara untuk partai yang lekat dengan sosok putri mendiang mantan Presiden Soekarno tersebut turun drastis, tinggal separuhnya (18,5 persen). Wilayah yang didominasinya pun menyusut, tinggal 20,2 persen dari 440 kabupaten/kota.
Sebaliknya, keterpurukan Golkar mampu dipulihkan dengan cepat. Meskipun secara nasional perolehan suara Golkar justru turun dari 22,4 persen pada tahun 1999 menjadi 21,6 persen pada tahun 2004, menduduki peringkat satu dan sebaran wilayah yang mampu dimenangkannya pun makin banyak. Dalam pemilu terakhir, partai berlambang beringin itu mampu menaikkan penguasaan wilayahnya menjadi 61,6 persen atau 271 kabupaten/kota.
Penguasaan wilayah oleh Partai Golkar pada Pemilu 2004 banyak terjadi di wilayah-wilayah hasil pemekaran. Dari 143 daerah yang dimekarkan antara tahun 1999-2004, 72 persen atau 103 wilayah pemekaran dimenangkan oleh Partai Golkar pada Pemilu 2004. PDI-P hanya memenangkan 12,6 persen wilayah pemekaran, sisanya diperebutkan oleh partai-partai lain.
Pemilu 2004 juga ditandai dengan fenomena munculnya dua kekuatan partai baru, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat, yang mampu mengungguli raihan suara PAN. Kehadiran dua partai yang tumbuh secara cepat ini menandai jejak baru dalam peta politik nasional.
Jejak ideologis
Bagaimanapun, timbul-tenggelamnya kekuatan partai membekaskan jejak pada wilayah yang pernah dikuasainya. Di Jawa, perubahan komposisi nasionalis-agama cenderung dinamis. Sementara di luar Jawa, penetrasi kekuatan Orde Baru mengubah peta politik menjadi lebih permanen. Warna politik nasionalis masih tetap kental di luar Jawa walaupun kekuasaan Orde Baru tumbang.
Kebanyakan dari wilayah-wilayah di Pulau Sumatera, seperti Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Sumatera Utara, telah berubah warna. Wilayah ini cenderung menjadi basis partai nasionalis. Di hampir semua wilayah Kalimantan juga telah berubah menjadi basis massa partai nasionalis. Kekuatan nasionalis pun merambah ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah ?hijau? yang 67 persen suaranya dikuasai oleh partai-partai Islam pada Pemilu 1955 ini menjadi relatif permanen dengan warna ?kuning? Golkar sejak Pemilu 1971-2004. Di Sulawesi Selatan, wilayah yang 69 persen dikuasai oleh partai ?hijau? pada tahun 1955 telah berubah 180 derajat menjadi sangat nasionalis.
Meski demikian, tetap ada kantong-kantong wilayah (enclave) yang memiliki karakter kuat. Sebagian wilayah yang ditinggalkan oleh Masyumi, misalnya, tetap memiliki ciri sebagai basis massa Islam ketika pemilu kembali dilaksanakan secara bebas. Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Riau, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Kalimantan Selatan cenderung memiliki keseimbangan politik aliran-nasionalis yang lebih stabil.
Sejak tahun 1999, pergeseran paling dominan dalam penguasaan wilayah hanya terjadi di antara dua partai besar saja, Partai Golkar dan PDI-P. Meskipun beberapa partai baru, seperti PKS, mampu merebut beberapa wilayah, dan PKB menjadi kekuatan di Jawa Timur, penguasaannya masih berkecakupan sempit.
Pergeseran dalam cakupan wilayah yang luas antara PDI-P dan Partai Golkar mencerminkan tarikan kekuatan yang, sejauh ini, paling besar pengaruhnya. Di wilayah perkotaan, misalnya, pada Pemilu 1999 PDI-P berhasil meraih kemenangan di 50 dari 69 kota di Indonesia, tetapi kemudian direbut kembali oleh Partai Golkar pada Pemilu 2004. Dalam pemilu terakhir tersebut, Partai Golkar meraih 50 dari 99 kota dan PDI-P hanya 18 kota.
Perubahan tampaknya memang lebih identik dengan wilayah perkotaan daripada pedesaan. Terutama di Jawa, selain tarikan politik antarsesama partai nasionalis besar (Partai Golkar dan PDI-P) terjadi di wilayah perkotaan, kota juga menjadi ajang penaklukan partai-partai baru. Kemenangan PKS di Jawa yang semuanya berada di wilayah perkotaan mengindikasikan bahwa perkotaan menjadi wilayah terbuka untuk meraih simpati.
Pemilu 2009
Apakah Pemilu 2009 akan memunculkan kejutan baru, baik perubahan komposisi perolehan partai ataupun penguasaan wilayah? Tampaknya, akan terdapat banyak perubahan yang disebabkan naiknya pamor beberapa partai dan penguasaan partai dalam pilkada.
Prediksi bahwa Partai Demokrat akan memenangkan pemilu sudah santer dilemparkan sejumlah lembaga survei, seperti Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan gabungan lembaga penelitian CSIS, LIPI, LP3ES, dan Puskapol UI. Diperkirakan, suara partai yang lekat dengan figur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini akan mengungguli perolehan suara Partai Golkar dan PDI-P. Selain itu, partai baru Gerindra juga diperkirakan akan mengubah konstelasi di jajaran partai kelas menengah. Dengan begitu, paling tidak, dua partai ini akan menjadi penentu komposisi kekuatan baru.
Di samping itu, pola penguasaan wilayah diperkirakan akan mengalami perubahan besar karena kontestasi partai dalam pilkada, yang membuat sebagian partai menguat pengaruhnya dan sebagian yang lain melemah di basis massanya. Partai Golkar yang dalam Pemilu 2004 menang di 27 provinsi, kehilangan 20 provinsi dalam ajang pilkada. Partai ini tampak solid dengan meraih kemenangan tanpa koalisi hanya di dua provinsi, yang semuanya di Sulawesi. Sebaliknya, PDI-P yang dalam pemilu sebelumnya hanya menang di dua provinsi mampu menguasai tujuh provinsi dalam pilkada. Demikian juga koalisi yang dibangun PKS, meskipun kalah di satu-satunya basis massa tingkat provinsi (DKI Jakarta), pengaruhnya di tujuh provinsi lain tetap tertancap.
Apakah prediksi perolehan suara dan penguasaan partai atas dasar pilkada akan terbukti, tidak bisa dijamin. Belajar dari sejarah, pemilu kerap penuh kejutan dan konstelasi di tingkat nasional memang selalu samar.
RAMALAN PRIMBON UNTUK INDONESIA
Mungkin kita sering menyaksikan dan melihat ramalan zodiac berdasarkan shio yang sering diumumkan oleh berbagai media masa setiap harinya, mulai dari ramalan asmara, keuangan, karir, dan lain sebagainya. namun juga primbon jawa tidak kalah canggihnya dibandingkan dengan ramalan zodiac, bahkan ramalan ini bisa dikatakan lebih lengkap.
Primbon adalah pengetahuan Jawa yang berusia ratusan tahun, dan kini masih lazim digunakan dalam masyarakat Jawa. Primbon merupakan sistem perhitungan atau ramalan berkaitan dengan aktivitas orang Jawa. Tidak seperti ramalan zodiac, yang biasanya hanya meramalkan masalah pribadi sesorang pada hari tertentu, Primbon sedikitnya membicarakan tentang perhitungan berkaitan dengan baik buruknya waktu kegiatan (upacara perkawinan, mendirikan rumah, menempati rumah, dan sebagainya), ramalan watak manusia dan hewan berdasarkan ciri-ciri fisiknya, ramalan yang bersifat gaib (misal, mimpi dan kedutan), serta perhitungan mengenai tempat tinggal.
Sekarang kita tidak lagi susah-susah mencari orang yang benar-benar ahli dalam masalah ramalan primbon, karena telah banyak situs yang menyediakan aplikasi untuk ramalan ini, misalnya pimbon.com dan lain sebagainya.
Menurut ramalan primbon yang meramal watak manusia misalnya, jika anda dilahirkan pada tanggal satu berarti Anda mempunyai kemauan yang keras, mandiri dan percaya diri. Orang lain mungkin berkata Anda "terlalu banyak berpikir" karena Anda lebih suka berencana namun tidak benar-benar menjalankannya. Anda cenderung mendiagnosa apa yang salah daripada membenahinya. Anda memiliki pemikiran yang bagus dan suka berunding. Praktis dan idealis, Anda menyukai hal-hal yang diukur oleh otak daripada hati Anda. Akibatnya, walaupun Anda mampu memberikan kasih sayang, Anda tidak menunjukkannya terang-terangan. Di balik kemandirian Anda, Anda adalah seseorang yang sangat sensitif dan membutuhkan dorongan dan feedback (umpan balik) yang positif. Anda juga memiliki kekuatan besar yang terpendam.Dalam hal ini juga tak ada yang paham betul bagaimana diperoleh kesimpulan semacam di atas.
Dalam hal percaya atau tidaknya dengan ramalan semacam di atas, itu semua kembali kepada diri kita masing-masing, yang jelas dalam islam urusan jodoh dan hal yang berkaitan dengan masa yang akan datang itu semua adalah mutlak menjadi urusan Allah SWT.
Di era yang serba modern, kepercayaan terhadap primbon tersebut sedikit banyak telah ditinggalkan oleh sebagian masyarakat jawa sendiri, terutama bagi mereka kaum muda dan mereka yang berpendidikan tinggi. Karena menurut mereka hal ini bukanlah hal rasional dan sudah sepatutnya ditinggalkan, mengingat sudah semakin majunya peradaban manusia.
Sekali lagi hal semacam tersebut adalah murni hasil produk budaya, yang mana kita sebagai orang yang berada di dalamnya harus bisa bersifat seobyektif mungkin, dan tidak hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. (wallahu?alam).
Bait-Bait Terakhir Ramalan Joyoboyo
Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan. Berikut adalah cuplikan bait-bait tersebut yang menggambarkan ciri-ciri atau karakter seseorang itu :
159.selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu; bakal ana dewa ngejawantah; apengawak manungsa; apasurya padha bethara Kresna; awatak Baladewa; agegaman trisula wedha; jinejer wolak-waliking zaman; ?
(selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (akhir Kalabendu, menjelang Kalasuba); akan ada dewa tampil; berbadan manusia; berparas seperti Batara Kresna; berwatak seperti Baladewa; bersenjata trisula wedha; tanda datangnya perubahan zaman; ?)
160.
?; iku tandane putra Bethara Indra wus katon; tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa
(?; itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak; datang di bumi untuk membantu orang Jawa)
162.
?; bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis; tan kasat mata, tan arupa; sing madhegani putrane Bethara Indra; agegaman trisula wedha; momongane padha dadi nayaka perang perange tanpa bala; sakti mandraguna tanpa aji-aji
(?; pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk; yang memimpin adalah putra Batara Indra, bersenjatakan trisula wedha; para asuhannya menjadi perwira perang; jika berperang tanpa pasukan; sakti mandraguna tanpa azimat)
163.
apeparap pangeraning prang; tan pokro anggoning nyandhang; ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang; ?
(bergelar pangeran perang; kelihatan berpakaian kurang pantas; namun dapat mengatasi keruwetan banyak orang; ?)
164.
?; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
(?; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)
166.
idune idu geni; sabdane malati; sing mbregendhul mesti mati; ora tuwo, enom padha dene bayi; wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada; garis sabda ora gentalan dina; beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira; tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa; nanging inung pilih-pilih sapa
(ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti), yang membantah pasti mati; orang tua, muda maupun bayi; orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi; garis sabdanya tidak akan lama; beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya; tidak mau dihormati orang se tanah Jawa; tetapi hanya memilih beberapa saja)
167.
waskita pindha dewa; bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira; pindha lahir bareng sadina; ora bisa diapusi marga bisa maca ati; wasis, wegig, waskita; ngerti sakdurunge winarah; bisa pirsa mbah-mbahira; angawuningani jantraning zaman Jawa; ngerti garise siji-sijining umat; Tan kewran sasuruping zaman
(pandai meramal seperti dewa; dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda; seolah-olah lahir di waktu yang sama; tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati; bijak, cermat dan sakti; mengerti sebelum sesuatu terjadi; mengetahui leluhur anda; memahami putaran roda zaman Jawa; mengerti garis hidup setiap umat; tidak khawatir tertelan zaman)
168.
mula den upadinen sinatriya iku; wus tan abapa, tan bibi, lola; awus aputus weda Jawa; mung angandelake trisula; landheping trisula pucuk; gegawe pati utawa utang nyawa; sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan; sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
(oleh sebab itu carilah satria itu; yatim piatu, tak bersanak saudara; sudah lulus weda Jawa; hanya berpedoman trisula; ujung trisulanya sangat tajam; membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan)
170.
ing ngarsa Begawan; dudu pandhita sinebut pandhita; dudu dewa sinebut dewa; kaya dene manungsa; ?
(di hadapan Begawan; bukan pendeta disebut pendeta; bukan dewa disebut dewa; namun manusia biasa; ?)
171.
aja gumun, aja ngungun; hiya iku putrane Bethara Indra; kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan; tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh; hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun; tan kena den apusi; marga bisa manjing jroning ati; ana manungso kaiden ketemu; uga ana jalma sing durung mangsane; aja sirik aja gela; iku dudu wektunira; nganggo simbol ratu tanpa makutha; mula sing menangi enggala den leluri; aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu; beja-bejane anak putu
(jangan heran, jangan bingung; itulah putranya Batara Indra; yang sulung dan masih kuasa mengusir setan; turunnya air brajamusti pecah memercik; hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya; tidak bisa ditipu; karena dapat masuk ke dalam hati; ada manusia yang bisa bertemu; tapi ada manusia yang belum saatnya; jangan iri dan kecewa; itu bukan waktu anda; memakai lambang ratu tanpa mahkota; sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati; jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh; keberuntungan ada di anak cucu)
172.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada; ing zaman kalabendu Jawa; aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa; cures ludhes saka braja jelma kumara; aja-aja kleru pandhita samusana; larinen pandhita asenjata trisula wedha; iku hiya pinaringaning dewa
(inilah jalan bagi yang ingat dan waspada; pada zaman kalabendu Jawa; jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa; yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga; jangan keliru mencari dewa; carilah dewa bersenjata trisula wedha; itulah pemberian dewa)
173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)
Sampai di sini kita akan dapat mulai memahami siapakah yang dikatakan oleh Joyoboyo dengan istilah Putra Betara Indra itu ? Bait-bait tersebut telah mengurai secara rinci tentang ciri-ciri dan karakter orang tersebut. Putra Betara Indra tidak lain dan tidak bukan adalah Waliyullah (aulia) yang tertulis di dalam sinom bait 28 pada Kitab Musarar Joyoboyo. Perlambang paras Kresna dan watak Baladewa bermakna satria pinandhita. Karena hakekat dua bersaudara Kresna dan Baladewa (Krishna Balarama) melambangkan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Kresna melambangkan pencipta, sedangkan Baladewa melambangkan potensi kreativitas-Nya. Dua bersaudara Kresna dan Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai penggembala sapi. Dengan hakekat ini setidaknya kita dapat meraba bahwa Putra Betara Indra adalah juga Pemuda Gembala (budak angon) yang telah dikatakan oleh Prabu Siliwangi di dalam Uga Wangsit Siliwangi.
Comments
Jumat, 12 Februari 2010
| Isu ini memang sudah lama, Pihak New7Wonders sendiri melakukan vote ini hingga tahun 2011, dimana Juli 2010 ini akan dipilih 14 Tertinggi, lalu Juli 2011 akan dinobatkan 7 terbaik, sooo tujuan trid ini untuk mengingatkan agan-agan untuk vote(lagi) pulau komodo, jangan sampai keluar dari 14 besar..Thx All Yang dulu sudah pernah vote, jika ingin vote lagi, harus membuat email yang baru, kemudian daftar ulang(agak repot memang, tapi ini untuk INDONESIA kita. |
Tadi pagi lyat newsticker dari salah satu tv swasta, tertarik untuk buka New 7 Wonders.
Pulau Komodo Indonesia posisinya sekarang ada di antara peringkat 1-14 dari 28 Finalis New7Wonders(tidak disebutkan posisi peringkat secara spesifik), tapi kedudukannya sedang menurun(dari minggu lalu, lihat di sini), oleh karena itu, ayo kita voting terus pulau komodo, agar tidak turun lagi, kalo bisa biar naik posisinya
----Cara Vote----
2. Daftar/registrasi terlebih dahulu.
3. Masuk ke email yang anda tuliskan saat mendaftar
4. klik link yang ada dalam email tersebut
5. Account anda di New7Wonders telah aktif
6. Kemudia klik dsini(http://www.new7wonders.com/n7w)
7. Pilih 7 kandidat
8. Daftar lagi, pilih lagi
Saran ane, selain pilih Pulau Komodo, pilihlah salah 6 dari : Uluru, Kilimanjaro, Sundarbans, Milford Sound, Masurian Lake, jeju island, Cliff of Moher, Black Forest, Bu Tinah Island, El Yunque, Matterhorn, Cervino, Mud Volcanoes, Table Mountain, Yushan.
Tempat2 yang ane sebutin tadi peringkatnya kecil, jadi tidak akan mengganggu peringkat Pulau Komodo, kalau dipilih yang peringkat tinggi2, khawatir pulau komodo tidak bisa meningkat peringkatnya.
supaya memudahkan untuk vote lebih dari sekali, silakan baca http://kask.us/3363793
Koordinat: 8.55° S 119.45° EKoordinat: 8.55° S 119.45° E
Luas Wilayah: 390 km²
Pada tahun 1910 Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn va Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan naga menyerupai monster di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh salah satu komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah barat Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Tahun 2008, di pulau ini hanya terdapat sedikitnya 1200 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca sehingga jumlah mereka keseluruhan menjadi sekitar 2500 ekor.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.

Semenjak tanggal 21 Juni 2009, voting dibuka untuk umum, dan akan direkap tiap tahunnya, tahun 2010 ini akan terpilih 14 terbaik, kemudian tahun 2011 akan dinobatkan 7 terbaik. Sebelum dibuka voting secara umum, pemilihan kandidat dilakukan oleh panelis dengan beberapa parameter penilaian, yaitu:
1. Keindahan & keunikan situs yang ditunjuk
2. Keragaman dan distribusi (diperhitungkan dalam 7 groups)
3. Ecological (dalam hal baik eko-sistem yang berdiri sendiri dan/atau maknanya bagi manusia)
4. Warisan sejarah (bahwa manusia dan/atau penduduk asli telah atau memiliki hubungan dengan situs)
5. Lokasi geografis (distribusi 28 Finalis dari semua benua)
Para Panelis:
Prof. Dr. Federico Mayor Zaragoza (Mantan Director-General UNESCO)
Dr. John Francis(Traveller terkenal)
Simon King(Kameramen Kehidupan Alam Bebas)
Ana Paula Tavares
Bernard Weber
Rex Weyler
Prof. Dr. Jan Zima
Senin, 23 Februari 2009
SEBUAH RENUNGAN...
Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang di
bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja
si bapak.
Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat
bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliau
menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih
muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga,
bahkan percintaan hehehe..
"Your country is so rich!"
Ah biasa banget
dulu..
"Indonesia doesnt need the world, but the world need
"Everything can be found here in
world"
"Mudah saja,
Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh
"Singapore is nothing, we cant be rich without
500.000 orang
bulan. bisa terbayang uang yang masuk ke kami? apartemen2
dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia,
ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah
sakit kami, orang
"Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika
asap hutan
berasa, we are nothing."
"Kalian ga tau
termasuk di singapura dan
dengan mudah dapat beras"
"Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah
negara kami, air bersih pun kami beli dari
pernah ke kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata.
Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana
menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik
menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya
sendiri"
"Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut
meng-embargo
segalanya. Mereka takut klo kalian menjadi mandiri,
makanya tidak di embargo. harusnya KALIANLAH YANG
MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani2
kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik2
sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi
sendiri."
"Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI,
Kamis, 06 November 2008
Nasionalisme Indonesia Dalam "Ancaman"?
Label: aku terlalu cinta indonesiaNasionalisme Indonesia Dalam "Ancaman"?
MOMENTUM Kebangkitan Nasional yang dikonstruksi pada tahun 1908 merupakan titik yang sangat signifikan bagi kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk merekatkan elemen-elemen yang berbeda dalam satu naungan negara-bangsa yang bernama Indonesia.
Dari momentum Kebangkitan Nasional 1908 tersebut, paling tidak terdapat dua faktor yang sangat signifikan bagi investasi Indonesia. Pertama, pemuda yang menunjukkan peran dan eksistensinya secara jelas untuk menjadi lokomotif perubahan yang heroik bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan serta kebangsaan Indonesia pascakemerdekaan.
Pada konteks tersebut, semakin menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan dan menciptakan sejarah baru bangsa ini atau paling tidak menjadi trend setter sejarah Indonesia. Hampir seluruh sejarah yang tercipta di negeri ini� dilakukan atas peran serta pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998. Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan betapa signifikannya keberadaan pemuda dalam konteks keindonesiaan.
Dari gugusan sejarah Indonesia yang jangan pernah dilupakan adalah bahwa kontribusi terbesar terbentuknya sejarah Indonesia karena adanya komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda di masa lalu. Namun, kita tentu tidak berharap bahwa roda sejarah harus terhenti karena pemuda Indonesia hari ini kehilangan vitalitas ekspresi perannya dalam perubahan keindonesiaan, menghadapi tantangan kesejarahan yang semakin berat, dengan kecenderungan sosial yang semakin masif dan dinamis.
Kedua, dari lembaran sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual tertoreh kontribusi daerah-daerah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya konstruksi nasionalisme Indonesia. Melalui peran, komitmen, dan kesadaran yang tulus dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah, dalam tujuan dan cita-cita bersama: memajukan Indonesia, dapat disepakati, dan diimplementasikan secara bersama.
Komitmen dan ketulusan daerah dalam proses terbangunnya bangsa ini sangat tidak pantas untuk dipertanyakan kembali. Goresan tinta sejarah bangsa ini teramat berarti bagi komponen bangsa ini, terutama daerah. Eksistensi daerah saat ini tengah menampakkan keceriaannya, setelah sebelumnya tampak kusam akibat paradigma kekuasaan masa lalu, yang memersepsi lahan sosial Indonesia dalam bingkai homogenisasi.
Pola tersebut selanjutnya menempatkan entitas daerah dengan segala bentuk, simbol, dan aktivitasnya sebagai sebuah ancaman bagi ikatan nasionalisme atau integrasi nasional. Mungkin penerapan kebijakan homogenisasi tersebut dianggap tepat, lantaran paham kedaerahan yang sempit terbukti di banyak negara menimbulkan persoalan yang berimplikasi bukan saja pada ancaman persatuan dan kesatuan nasional, namun juga terjebak dalam konflik sosial antaretnis berkepanjangan, yang pada akhirnya memorak-porandakan bangunan sejarah suatu bangsa.
Namun, fenomena daerah setelah beberapa waktu berjalan dapat menikmati "kebebasannya" dari kooptasi sentralisasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, nyatanya belum berada dalam posisi yang kondusif. Kerap dalam beberapa peristiwa, masih didapatkan kecenderungan yang mempertentangkan pusat dan daerah. Sehingga muncul kecenderungan dekonstruksi nasionalisme bukan reformulasi nasionalisme yang menawarkan wajah nasionalisme yang lebih baik.
Mungkin juga fenomena tersebut sebagai akibat apresiasi dan kepentingan daerah yang belum terakomodasi dalam ruang yang semestinya. Sehingga kecenderungan-kecenderungan mengurangi dominasi kekuasaan pusat atas daerah tak bisa dihindari. Hanya, memang dalam beberapa hal, kerap dipandang melebihi takaran yang seharusnya.
Peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini (2006), idealnya mampu mengantarkan komponen bangsa ini pada kontemplasi terhadap eksistensi nasionalisme yang tengah berada dalam ancaman. Nasionalisme kita yang tengah berada dalam ancaman, paling tidak diindikasikan semakin panjangnya deretan persoalan kebangsaan, seperti besarnya utang luar negeri, fenomena memudarnya rasionalitas dan praktik kriminalitas sosial yang terus diperagakan dalam lahan sosial Indonesia sehingga muncul sebutan Republic of Horor atau Republic of Fear, menuntut Indonesia untuk memiliki apa yang disebut nasionalisme baru atau paling tidak merevitalisasi nasionalisme kita yang sesungguhnya dibutuhkan bangsa ini agar menjadi sebuah keniscayaan.
Langkah ini barangkali bisa menjadi salah satu alternatif, yang mampu memberikan sumbangan penting untuk turut meminimalisasi pesimistis yang melanda sebagian besar warga negara, agar menempatkan kembali nasionalisme sebagai sesuatu yang dipahami bersama dalam berbangsa dan bernegara serta mempertahankan nasionalisme dari implikasi negatif globalisasi politik dan ekonomi.
Nasionalisme baru yang hendak ditumbuhkan, selain didorong kecenderungan adanya dekonstruksi berbagai hal, pada sisi lain dalam konteks keidealan, Indonesia memang belum menemukan bentuk nasionalisme yang "konkret", selalu berada dalam tahapan "pencarian bentuk" (metamorfosis).
Dalam pergumulan wacana seputar nasionalisme sejumlah ahli, semisal Cornelis Lay, mengungkapkan posisi nasionalisme yang terimpit oleh dua kekuatan mahabesar: globalisasi dengan logika dan asumsi-asumsi universalitas, uniformitas, dan sentralisasinya dengan etno-nasionalisme yang berjalan ke arah sebaliknya.
Di tengah impitan arus besar tersebut, nasionalisme baru Indonesia mestinya memiliki cita-cita bersama yang dirumuskan dalam good society, dengan memaknai masa lalu dan merumuskan masa depan dalam kesatuan gerak masa kini. Alangkah baiknya, untuk menopang proyeksi tersebut, mempertajam apa yang disebut prinsip kewarganegaraan (citizenship), yang memiliki daya seduksi yang sangat besar dalam memenuhi hasrat setiap komunitas dan umat manusia atas persamaan.
Mengapa citizenship layak mendapat perhatian dalam kerangka memperkuat nasionalisme kita? Paling tidak, citizenship merepresentasikan kehendak untuk mengusung partisipasi kualitatif masyarakat, untuk mencapai civil society. Barangkali kita akan sepakat bahwa tidak ada satu pun negara maju yang tidak berlandaskan masyarakat yang kualitatif dalam segala hal. Pun lantaran kewarganegaraan layak dimengerti sebagai jantung dari konsep nasionalisme.
Dengan demikian, semestinya mulai hari ini dan ke depan, kita harus kembali membenahi anyaman sejarah bangsa yang terkoyak di beberapa bagian. Membangun kembali keindahan sejarah melalui jalinan harmonis seluruh kekuatan bangsa, termasuk elemen-elemen daerah. Upaya mengonstruksi keindonesiaan kita yang lebih baik merupakan sesuatu yang sangat mungkin, seperti yang pernah dibuat pada tahun 1908, yang mampu mengumandangkan ikrar kebangsaan yang menjadi embrio kebangkitan nasional, dengan kekuatan nasionalisme kita.***
Selasa, 28 Oktober 2008
INDONESIA TUH INDAH
Label: aku terlalu cinta indonesiaKeindahan Indonesia dikembangkan oleh asing..Tidak malukah kita?
sumber
sumber
Apakah ada yang tahu foto-foto tersebut semua diambil dimana?
sumber
Foto-foto tersebut adalah foto-foto keindahan bawah laut di perairan raja ampat di daerah barat papua. Mungkin banyak dari anda sekalian yang baru pernah mendengar perairan raja ampat ini? Tetapi sebenarnya raja ampat sangat terkenal sekali di kalangan penyelam dan merupakan salah satu surga penyelaman di dunia.
sumber
sumber
Perairan raja ampat di papua memang sejak puluhan tahun lalu memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa, bahkan salah satu yang terbaik di dunia. Namun tidak ada satupun dari kita orang indonesia yang mengembangkannya atau bahkan mengetahuinya. Sampai adanya seorang Max Ammer.
Max Ammer (di foto atas sebelah kiri) adalah penyelam yang berkewarganegaraan Jerman dan Belanda yang sangat jatuh hati sejak belasan tahun yang lalu akan keindahan bawah laut raja ampat yang kita miliki. Dia jugalah yang akhirnya membuat Resort Papua Diving, yang sejak 1994 hingga sekarang merupakan salah satu tempat tujuan para penyelam dunia.
Ini website Papua Diving
Max Ammer adalah betul-betul seseorang pengusaha yang mencintai dan mengembangkan daerah sekitar Raja Ampat. Dari 100 orang pekerjanya 90 adalah orang asli papua, dalam membangun papua diving dia menggunakan semua sda dari sekitar hanya semen dan cat saja yang tidak dari tempat tersebut, diapun mengajak wisatawan-wisatawan yang datang untuk ikut mencintai papua, banyak dari wisatawan-wisatawan tersebut yang menjadi donatur tetap untuk sekolah, tempat ibadah, dll.
Bahkan karena adanya peran Max Ammer jugalah Raja Ampat sejak tahun 2005 mendapatkan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II, suatu program yang dibuat oleh bank dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan kerapu dan rumput laut.
sumber
sumber
Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang seperti Max Ammer. Kalau anda ingin tahu betapa warga dunia menghargai Raja Ampat bukalah google dan ketik raja ampat untuk mengetahuinya sendiri. Namun hal yang sangat membuat saya sedih adalah mengapa orang yang begitu mencintai dan mengembangkan keindahan indonesia adalah orang berkewarganegaraan Jerman dan Belanda? Kemana kita sebagai orang-orang indonesia? Padahal seharusnya itu adalah kewajiban kita sebagai putra putri Indonesia.
Dengan tulisan ini saya ingin mengajak agar kita semua dapat mencintai keindahan-keindahan Indonesia kita dan ingin mengembangkannya. Karena masih banyak keindahan-keindahan lain yang belum berkembang atau belum begitu dikembangkan di indonesia ini. Satu dari sekian banyak keindahan tersebut adalah malingping, Silahkan pindah ke thread saya tentang malingping.
:kaskus
Klik disini untuk melanjutkan »»
